Press "Enter" to skip to content

Cara Menjaga Diri Dari Hal Negatif

Gimana metode kita melindungi diri dari perihal yang negatif?

Kadangkala percakapan ringan bersama istri jadi sangat mengasyikkan. Sehabis padat jadwal seharian di kantor, begitu kembali dekat jam 21. 00, aku mengajak istri buat sejenak makan bakso di pinggir jalur. Santapan murah serta simpel. Kami asik menceritakan ke situ kemari, mulai dari perihal– perihal ringan sampai perihal yang sungguh- sungguh.

Sampai istri aku menceritakan,“ Mas, tadi kan saya coba searching kata“ les privat” sama“ novel anak” di Twitter. Masa yang keluar banyak foto‘ gitu- gitu’. Saya jadi takut”

Kayaknya aku tidak butuh memperjelas iktikad istri aku tentang foto‘ gitu- gitu’, aku percaya Kamu yang membaca ini tentu mengerti artinya. Kemudian, kenapa istri aku takut? Sebab istri aku lagi memiliki 7 bulan, serta berpikir gimana triknya nanti dapat membagikan pembelajaran terbaik. Terbayang betapa mengerikannya dunia internet serta teknologi, apalagi mencari kata‘ novel anak’ merangsang timbul foto– foto yang kurang senonoh serta sangat negatif.

Butuh diingat kalau di banyak riset tentang otak, acapkali data dini yang ditangkap hendak ditaruh dalam memori, memunculkan emosi, serta dapat tersimpan dalam alam dasar siuman. Terus menjadi kerap kita memasukkan data( baik kata, foto, ataupun perkataan) yang negatif ke dalam otak kita, hingga mungkin besar diri kita hendak jadi orang yang negatif. Mulai dari mengecilkan kedudukan diri, sampai melaksanakan aksi– aksi kriminal.

Kemudian dialog juga bersinambung ke persoalan,“ gimana triknya dahulu kita dapat survive yang dapat dianjurkan ke anak– anak kita nanti? Gimana triknya dahulu orang tua serta guru– guru kita mengarahkan buat melindungi diri dari perihal– perihal yang negatif?”. Hasil dialog ini juga aku rangkum dalam tulisan kali ini. Kami juga berkesimpulan kalau poin– poin ini wajib kami sampaikan ke anak– anak kami nanti.

Apa yang biasa kami jalani buat menhaga diri dari perihal– perihal yang negatif?

Metode 1: Mengenali Apa itu Tujuan Hidup yang Sebenarnya

Ini merupakan metode yang dipakai oleh istri aku, serta benar– benar ditanamkan oleh mertua aku semenjak umur istri aku masih muda. Istri aku mempunyai prinsip, kalau sejatinya tujuan hidup sesungguhnya merupakan buat mengabdi kepada Tuhan. Hingga, yakinkan kehidupan kita di dunia ini jadi persiapan bekal buat menghadap kepadaNya nanti.

Hingga tidak heran saat sebelum umur 20 tahun, istri aku telah menciptakan sebagian karya. Semacam misalnya membangun Alkindi Daycare di Depok, setelah itu membuat AlkindiKids, toko online mainan anak islami. Apalagi dikala ini istri aku jadi pimpinan di CerdasMulia Foundation, suatu yayasan pembelajaran yang menaungi PAUD serta TK di Depok. Sementara itu, umurnya dikala ini belum genap 23 tahun!

Aku jadi mengerti kenapa semangat serta dedikasinya tidak terhenti, sebab yang ia pikirkan merupakan mencari serta mengumpulkan bekal kebaikan sebanyak– banyaknya. Bila hidup merupakan buat mencari bekal, mengapa wajib membuang waktu buat perihal yang tidak baik?

Perihal ini pula yang mendesak aku buat terus aktif menulis di web ini( dikala ini telah tulisan ke 751). Web ini salah satunya aku buat memanglah buat‘ mencari serta mengumpulkan bekal’. Supaya nantinya gampang– mudahan dapat jadi amalan kebaikan aku dikala menghadap kehadiratNya.

Metode 2: Bersahabat dengan Orang– Orang Berprestasi

Ini merupakan pendidikan yang aku miliki kala SMP. Pada waktu itu, aku sekolah di suatu sekolah swasta. Tetapi aku baru menyadari kalau di sekolah tersebut orang– orang berprestasi serta hasrat belajar dapat dihitung dengan jari. Sampai kesimpulannya aku larut dengan bermacam kegiatan sahabat– sahabat aku. Diawali dengan kerap bermain permainan, nangkring, serta banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan tidak bermanfaat.

Sampai kesimpulannya, aku hadapi musibah hebat. Sehabis itu aku memutuskan buat menggunakan hidup dengan lebih baik( baca cerita lengkapnya di mari). Aku juga setelah itu lulus serta berniat masuk ke SMA terbaik di kota aku( pada waktu itu SMAN 1 Bogor). Di sekolah ini, aku masuk serta bertemu dengan teman– teman yang luar biasa baik serta berprestasi. Prestasi aku juga pada kesimpulannya turut terangkat. Benarlah kata orang, yang berkata apabila kita bergaul serta berlatih bersama orang yang hebat, hingga lelet laun kita pula jadi hebat.

Tantangan pertemanan ini terus menjadi jadi sewaktu kuliah, di mana kita umumnya jauh dengan orang tua. Untunglah aku masuk ke Universitas Indonesia, menamatkan S1 serta S2 di situ. Bergaul dengan orang– orang terbaik, yang sampai dikala ini masih membagikan banyak pelajaran berharga kepada aku.

Apa tipsnya supaya kita menciptakan teman yang pas? Buat aku, yakinkan kalau sehabis kita bersahabat dengan seorang, prestasi serta kebermanfaatan kita meningkat. Inilah tolak ukur sejati gimana memilah teman yang baik tipe aku.

Aku telah menuliskan sebagian panduan memilah teman, bisa jadi dapat dilihat di beberap tulisan berikut ini:

4 Kiat Memilah Teman yang Tepat

Siapakah Teman Terbaik Kita?

Siapa ketahui, panduan di atas bisa menolong Kamu menciptakan teman yang lebih baik.

Metode 3– Merasa Kalau Diri Masih Kurang Amal

Guru aku sempat berkata,

“ Bila sesuatu dikala kalian mau melaksanakan perihal yang negatif, ingatlah kalau perihal tersebut telah tentu masuk dalam hitungan dosa. Sedangkan bila kalian beramal/ taubat, janganlah bahagia sebab amalanmu/ taubatmu belum pasti diterima. Hingga dari itu, senantiasa memperbanyak amal kebaikan serta jauhi dosa.”

Nasihat ini sangat mengena ke aku. Ini pula aku share kepada istri aku. Intinya semacam ini:

Perihal negatif telah tentu masuk dalam hitungan dosa

Amalan baik ataupun taubat belum pasti menemukan pahala serta diterima( tidak terdapat ciri buktinya)

Nasihat guru aku ini membuat aku senantiasa berpikir kalau neraca amal aku senantiasa defisit. Jadi dikala aku tergerak mau melaksanakan perihal negatif, nasihat inilah yang menegaskan aku. Siapa ketahui, nasihat simpel ini pula berguna buat Kamu.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: